Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua telah tersusun indah oleh Sang Maha Kuasa. Bukan karena kami bertemu lalu berjodoh, tetapi karena berjodohlah kami dipertemukan.
Kami berkenalan di akhir tahun 2024. Dari dua orang yang awalnya hanya saling mengenal, perlahan kami menjadi bagian penting dalam kehidupan satu sama lain. Banyak hal telah kami lewati bersama—tawa, bahagia, perbedaan adat, pertengkaran, hingga air mata. Pernah ada masa ketika kami hampir menyerah, tetapi pada akhirnya kami selalu memilih untuk kembali.
Hingga sebuah keputusan besar datang. Aku berencana pergi ke Australia di akhir tahun 2026. Kami sadar, setelah itu akan ada jarak yang harus kami hadapi. Kami sempat berpikir untuk mengakhiri hubungan, bukan karena berhenti mencintai, tetapi karena takut jarak mengubah segalanya.
Namun kami sadar, kami tidak ingin kehilangan satu sama lain.
Maka sebelum jarak menjadi bagian dari perjalanan kami, kami memilih sebuah kepastian. Kami memutuskan untuk menikah. Bukan karena semuanya sempurna, melainkan karena setelah semua yang kami lewati, kami masih memilih satu sama lain.
Mungkin nanti akan ada rindu, malam-malam yang hanya ditemani layar, dan jarak yang menguji kesabaran. Tetapi kami percaya, sejauh apa pun aku pergi, akan selalu ada seseorang yang menungguku untuk pulang.
Dan ketika aku kembali, aku ingin pulang bukan hanya kepada seseorang yang pernah menjadi kekasihku, tetapi kepada suamiku.
InsyaAllah, September ini menjadi awal dari janji suci kami. Karena bagi kami, pernikahan bukan tentang menghindari jarak, melainkan tentang memastikan bahwa sejauh apa pun langkah kami, selalu ada jalan untuk kembali menemukan satu sama lain.
Kalau memang harus jauh, mari kita jauh sebagai suami dan istri, bukan sebagai dua orang yang saling kehilangan. 🤍